Sabtu, 07 Desember 2013

Jazz Goes To Campus


Dari yang Ada Sampai yang Gak Ada di Jazz Goes To Campus 2013

Jazz dan hujan. Sebuah kombinasi maut di bulan Desember. Buat yang datang bareng gebetan/pacar, menutup tahun dengan sesuatu yang bisa dikenang selamanya, dan buat yang datang bareng temen bisa dapet pengalaman yang bisa diomongin sampai hari tua. Itu pula yang jadi alasan kenapa Jazz Goes To Campus atau lebih dikenal dengan sebutan JGTC (baca: jegetese) selalu ramai pengunjungnya meskipun diguyur hujan.

Kamu-kamu pada dateng nggak kemarin?

Acara ini diselenggarakan Minggu (1/12/2013) oleh teman-teman FE UI di lingkungan sekitar kampusnya, dan tahun ini adalah yang ke-36 kalinya JGTC diselenggarakan. JGTC pertama kali dicetuskan pada 1976 oleh Chandra Darusman dkk, sebagai bentuk rasa cinta mereka terhadap musik Jazz. Keren, udah 36 tahun diadakan secara rutin.

Tahun ini, JGTC diisi lebih dari 40 musisi lokal dan beberapanya Internasional, di antaranya Raisa, SORE, Tulus, Tompi, Bubugiri, Andien, Barry Likumahuwa, KulKul, DEPAPEPE, Kyoto Jazz Massive, dan masih banyak lagi.

Dan, panggungnya dibagi menjadi empat, yaitu Telkomsel, Jazz It Your Way, BCA, dan Mandiri. Jadi para penonton bebas memilih mau nonton di panggung yang mana sesuai performer pilihan masing-masing.


Kyoto Jazz Massive mengumandangkan musiknya di tengah guyuran hujam.


Kulkul, salah satu band instrumen yang paling keren di acara ini.


Liak-liuk gerakan Andien sambil bernyanyi.


DEPAPEPE! AAAAAHH!

“DEPAPEPE cinta Indonesa, khami bakhal khangeen!” teriak Miura Takuya dengan bahasa yang terbata-bata. Respect buat personel DEPAPEPE ini.

Ternyata, meskipun diguyur hujan yang lumayan deras gak bikin ciut niat penonton untuk mendatangi panggung.


Liat aja ramenya sampe ke belakang gitu.

Ngomongin tentang hujan, kami juga gak habis pikir kenapa setiap JGTC diselenggarakan pasti hujan. Apa pawang hujannya gak suka musik jazz jadi dia mogok kerja? Kalo bener iya, lowongan kerja buat kamu-kamu nih buat ngojek payung di sana atau sewain payung, pasti laku karena di sana gak ada ojek payung.


Oh ya, pengunjung yang datang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas, karena acara ini menurut kami salah satu acara yang bergengsi. Di sana kami udah memastikan bahwa gak terdeteksi kehadiran cabe-cabean, masteng, atau alay jadi buat kamu yang alergi sama tiga spesies itu tahun depan aman untuk dateng.


Acara Jazz Goes To Campus ini patut kami acungi jempol, karena acara ini nggak cuma menghibur penonton yang ada dengan musik berkelasnya, tapi juga memberikan inspirasi untuk musisi-musisi muda yang kemarin mengikutii band competition dan music clinic.

Sekadar saran nih buat panitia JGTC tahun depan, kami request booth tukang gorengan, bajigur, sama cappuccino cincau anget dong soalnya kalo tahun depan hujan lagi bisa buat ngangetin badan. Jangan cuma booth sponsor aja ya, perhatikan keadaan penontonnya juga kalo hujan kan dingin ditambah laper kalo pingsan terus keinjek-injek gimana? Hemmm... sama satu lagi, ojek peluk juga boleh deh. Kan dingin-dingin gitu enaknya dipeluk. Kasian yang datengnya sendiri.

Harapan kami untuk tahun-tahun ke depannya tolong dikerahkan panitia yang berbasis cewek-cewek cantik ya, sama pawang ujan yang kece, udah itu aja. Sukses terus ya Jazz Goes To Campus! Wohooo ~

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com